Untuk kesekian kalinya aku akhirnya tahu bahwasanya semua yang sudah kulakukan ini adalah sia-sia. Dengan segenap rasa percaya diri dan tanpa rasa bersalah, dia menghempaskan semua rasa sakit di dasar hatiku. Rela sungguh rela. Malam itu pula kuputuskan untuk menapaki jalan baru yang menghantarku ke alur hidup yang luar biasa.
Semua kumulai dengan Bismillah dan tawakal kepada Allah. Sejujurnya aku malu, baru menghadapNya sekarang setelah sekian lama hidupku tersesat dalam labirin hitam yang berasap. Labirin yang membuatku berpikir tidak jernih dan buta. Keyakinan atas perubahan membuat hatiku bergejolak, ingin rasanya kukalahkan bara api saking panasnya semangatku ini. Semangat yang melelehkan besi dan berhasil membantu membangun tembok yang besar dan kuat dari musuh-musuh manusia.
Untuk pertama kalinya kuraih jilbab dan kerudung dari dalam lemari. Ah, entahlah kapan terakhir kali aku menggunakannya. Mungkin, saat datang ke acara pemakaman kakek temanku tiga bulan yang lalu. Ah, sungguh memalukan, pakaian takwa yang seharusnya melekat pada tubuhku malah menjadi sarang laba-laba di lemari. Ah, bagaimana aku ini. Dengan perasaan haru dan takut aku memakainya. Hatiku bergetar, bibirku tidak hentinya mengucapkan kalimat-kalimat Allah. Air mataku menetes. Allah jadikan hatiku tenang. Membuatku semakin sadar, sudah saatnya untuk berubah.
...
Hari pertamaku menjalani lembar kisah yang baru. Mungkin aku bisa merobek lembaran lama yang sudah tercoret, tapi rekaman jejak akan coretan itu ternyata tidak bisa terhapuskan. Rasa takut dan bangga saling menyerang satu sama lain. Sayap kanan dan sayap kiri saling mengepak dengan arah yang tidak seirama. Aku bagai tertarik ombak yang entah kemana membawa diriku ini.
Mungkin hatiku masih lemah. Ya. Masih lemah. Sangat lemah. Aku butuh semacam kekuatan. Dengan suara yang jelas, pasti, dan penuh keyakinan, kuucapkan Basmallah dan menarik nafas panjang kemudian membuka mata lalu mengangkat wajah tanpa harus merasa malu lagi.
"Weh, Neira? Hijrah ni ye," Namanya Raisa. Cantik, sama seperti penyanyi Indonesia yang dicintai banyak orang. Aku tersenyum mendengar ucapannya yang sedikit ambigu menurutku. Apakah ada pesan tersembunyi yang ia sampaikan dari kalimat simpelnya itu?
"Hehe," jawabku kehabisan kata-kata. Ya, masih bingung aja harus dibela pakai dalil apa karena aku pun masih miskin ilmu. Setauku, hijrah adalah fase dimana kita ingin berubah menjadi lebih baik. Selebihnya? Entahlah. Nanti aku kaji lagi.
"Semoga istiqomah ya. Jangan kaya si sono, no. Baru aja hijrah berapa bulan, eh malah balik lagi. Hiw, percuma dong,"
Hem. Entah harus kubalas dengan kalimat apa selain minta agar didoakan menjadi istiqomah. Menurut kata-kata yang aku baca di instagram, hijrah itu mudah, istiqomah yang sulit. Mungkin, itu yang membuat banyak orang berhenti di tengah jalan atas perjuangan hijrahnya. Aku jadi merinding sendiri, entah bagaimana jadinya aku nanti? Apakah terus bisa seperti itu atau jangan-jangan? Ah..
"Raisa, aku punya sesuatu nih buat kamu,"
"Apaan?" tanya Raisa dengan alis mata terangkat. Rada kesel juga liat mukanya, tapi aku berusaha sabar karena menurut postingan di instagram yang aku baca, Allah bersama-sama orang yang sabar.
"Nih permen. Daripada lidah kita dipakai buat ngomongin orang, mending dipakai buat ngemut permen deh. Jadi lidah kita gak nganggur, dan terhindar dari hal yang sia-sia," astagfirullahadzim. Kira-kira, caraku salah apa benar nggak ya? Aku jadi takut sendiri.
"Wah, kebetulan juga nih. Lidahku terasa pahit, jadi cocok kalau ngemut permen," jawab Raisa membuat bulu kudukku yang tadinya berdiri sekerang melemas kembali.
Aku dan Raisa kini berjalan masuk ke kelas. Sudah kuduga tatapan teman sekelas tertuju ke arahku. Ada yang memuji, mentertawakan, mengejek bahkan ada yang mendadak naksir karena katanya aku lebih anggun kalau pakai hijab. Ada-ada saja. Tapi, aku tidak tergoda kok dengan itu. Apapun respon mereka, tujuanku tetap mencari ridho Allah.
"Wah, Neira. Doain ya semoga aku cepat menyusul. Salut sama kamu," ucap Sabrina. Dia ini pintar, tapi sikapnya seperti laki-laki dan suka bergaul sama laki-laki. Jadi merasa lucu membayangkan dia tampil anggun dengan pakaian syar'i. Mudahan saja suatu saat memang bisa seperti itu.
"Iya, aamiin Sabrina."
Aku jadi malu-malu. Peluhku menetes dari pelipis. Hem, panas juga ternyata berpakaian seperti ini. Sungguh sabar sekali orang-orang yang berpakain syar'i karena rela merasa hungap, panas dan gerah ketika mengenakan pakaian takwa ini. Lebih baik panas di dunia daripada panasnya neraka yang tak tertahankan. Ya Allah, lindungi aku dari kobaran api neraka yang membiru.
Saat adzan dzuhur sudah tidak lama lagi akan berkumandang, aku langsung pulang menuju kos. Kos ku tidak begitu besar, tapi cukup menampung teman satu komplotan untuk berisitirahat disini. Kami melaksanakan sholat, kemudian bercerita panjang lebar mengenai banyak hal. Sebut saja nama mereka adalah: Dara, Lia, Ana, dan Lia lagi. Em, karena Lianya ada dua, jadi yang satu kupanggil Lia dan yang kedua cukup dengan Li. Setiap hari, kos ku menjadi markas untuk perkumpulan kami.
"Neira, gimana rasanya dengan penampilan barumu?" tanya Dara, gadis berkacamata yang suka makan coklat. Biasanya, dia selalu membawakanku coklat batangan setiap hari rabu dan sabtu.
"Merasa lebih aman. Seperti ada yang jagain. Ini aurat, aurat adalah aib. Jadi kita harus malu menampakannya," ucapku dengan pemahaman yang masih dangkal.
"Berati kalau gak ditutup, dosa kan?"
"Enggak, selama pakaianmu masih sopan," jawab Li.
"Menutup aurat itu ada perintahnya di al-Quran. Aku lupa surah apa, bentar ya.. Aku cari dulu di mbah google,"
Akhirnya pembicaraan kami yang biasanya diisi dengan rencana weekend, episode terbaru drama korea, atau sekedar berita panas selebriti tergantikan dengan perintah Allah dalam al-Quran dan hadist-hadist Rasul tentang kewajiban menutup aurat. Kami bahkan mengakses youtube untuk mendengarkan ceramah-ceramah ulama tentang menutup aurat beserta adzabnya jika tidak melaksanakan perintah itu. Ya, walau sempat ada pendapat ulama yang mengatakan jika perempuan diperbolehkan tidak menutup aurat asalkan tetap berpakain secara terhormat. Li, hampir saja berdebat denganku akibat ini. Tapi, dari sekian banyak video di youtube yang kami lihat, mewajibkan wanita untuk menutup aurat, dan dalam Islam sudah diatur bagaimana cara menutup aurat itu. Akhirnya aku dan keempat temanku yang lain paham hingga tak terasa paket kuotaku habis. Ya Allah...
MasyaAllah, kuucapkan dengan hati yang lapang. Mulai besok, keempat temanku yang lain akan mencoba untuk menutup auratnya. Aku jadi tidak sabar melihat mereka besok. Tidak sia-sia paket kuotaku habis. Semoga besok dompetku mendapat keajaiban sehingga bisa beli paket kuota.
Author : Nur_Erii
Ig : Nur_Erii
Fb : Nur Erii

Comments