Aku melihatnya, tapi aku tidak berani menyapanya.
Aku mungkin beberapa kali berpapasan dengannya, namun aku tidak berani menatap matanya.
Perasaan takutku, pada Allah lebih besar dari perasaan cintaku untuknya.
Allah mungkin tidak melarangku untuk jatuh cinta, tapi Allah akan marah jika aku tunduk pada nafsu karena cinta pada manusia.
Lalu ya Allah, apa yang harus aku lakukan dengan perasaan cinta ini?
Sedangkan degupan jantungku selalu saja meronta-ronta saat tidak sengaja melihatnya.
Kakiku menjadi lemah, seandainya ku tak mampu menahan mungkin sudah terjatuh di tempat dimana aku berdiri.
Aku selalu gelisah setiap berada di tempat yang dimana aku bisa melihatnya, atau dia bisa melihatku. Meski aku tidak tahu apakah dia melihatku atau tidak. Aku pun tidak yakin, apakah dia mengenaliku atau tidak.
Berdoa.
Aku berdoa ya Allah.
Namun, bukan dengan menyebut namanya. Aku hanya ingin Kau berikan yang terbaik.
Meski aku mencintainya, aku tidak tahu apakah memang namanya yang ditakdirkan untukku atau bukan. Jadi, kuserahkan semuanya untukmu.
Ingin sekali aku melantunkan namanya dalam bait doaku. Tapi, aku malu dan juga takut.
Aku malu kepadanya, meski ia tidak tahu jika namanya (bisa jadi) aku sebut dalam doaku. Karena, siapa aku?
Aku takut jika, pada kenyataanya Kau mengabulkan doaku dengan cara yang lain.
Cinta ini, em. Aku tidak pernah mengharapkan kedatangannya. Karena aku tahu, jika perasaan cinta itu datang di hati seseorang, maka ia mudah sekali dikuasi hatinya. Em, ya, tapi nyatanya perasaan itu datang, bukan?
Bagiku, cinta ini adalah ujian. Mungkin, Allah sedang menguji diriku.
Ya, cinta sebelum pernikahan itu adalah ujian. Karena apa? Disitulah kita diuji, apakah kita sanggup melawan nafsu atau malah tunduk pada nafsu.
Aku sempat bersedih, karena aku yang selama ini menolak jika sedang jatuh cinta, akhirnya mengakuinya dihadapanMu. Aku menangis, karena aku takut ya Allah. Aku jadi sering merindukannya. Padahal, tidak seharusnya rasa itu ada dalam diriku. Aku pun mulai menyibukkan diri dengan berbagai hal, karena ingin melupakannya. Aku sibuk dengan agama dan ilmuku. Aku mungkin melupakannya, tapi bukan berarti dia hilang dari hatiku.
Aku tahu, dia akan pergi ke tempat yang jauh. Saat itu, aku menangis. Um, betapa malunya diriku menangis untuk seseorang yang bahkan tidak tahu jika aku mencintainya. Aku hanya sedih, karena mungkin aku tidak akan pernah melihatnya lagi meski hanya sekedar tatapan tak sengaja. Ya, aku tidak punya keberanian untuk menatapnya meski hanya sekedar tatapan diam-diam atau menatap dari kejauhan. Aku tidak berani untuk itu. Aku hanya berani menatapnya, ditatapan pertama. Ketika Kau buat aku tidak sengaja bertemu dengannya.
Aku berpikir, di tempat yang baru itu, ia pasti akan menemukan seseorang yang jauh...........lebih baik dariku. Diriku, bahkan untuk dikatakan seperti bunga pun, rasanya tidak pantas. Apalagi seperti mutiara-mutiara yang bisa saja ia temukan di tempatnya yang baru.
Apakah aku akan merelakannya? Maksudnya, apakah aku akan melupakannya.
I don't know......
Allah yang memiliki hatiku, jika Allah memang tidak mengijinkannya, seiring waktu berjalan perasaan itu pasti akan hilang.
Namun, jika Allah mengijinkan, bahkan mungkin menyatukan kami. Allah akan memberikan kami jalan dengan segela macam kejutan darinya.
Nur Erii
Contact Person :
Ig : Nur Erii

Comments